Tuhan
Benarkah adanya bahwa diriku tidak mampu
Benarkah adanya bahwa diriku ini sudah tak sanggup lagi
Benarkah adanya bahwa diriku tak mampu
Untuk sekedar merasa sedih aku merasa aku tak berhak
Untuk sekedar mengeluh aku merasa tak berhak
Bahkan untuk menganggap diriku lemah aku tak berani
Atas semua yang kulihat dan kudengar
Aku ribuan kali meyakinkan diri
Bahwa aku masih baik-baik saja
Aku masih bisa melakukan sesuatu
Tapi tuhan...
Aku juga mampu bersedih atas segala apa yang terjadi
Segalanya bukan atas inginku
Segalanya juga bukan tentang sekedar aku lebih baik dari siapapun
Segalanya bukan tentang aku yang masih bisa baik-baik saja
Tapi atas sakit yang kuterima
Tapi atas kebaikanku yang ditipu dimanfaatkan dan dipermainkan
Tapi atas segala hal yang menyakitiku
Bukan berarti aku merasa aku paling tersakiti disini
Aku yang baru mulai belajar berjalan ini
Yang selalu mengemis arti dari sebuah keberadaan tanpa tau terjerumus dalam makna tidak berharga
Apakah akan terus berulang seperti ini?
Sedang aku belum selesai dengan diriku
Kau memberikanku sebuah tantangan baru
Lantas kapan aku isa selesai dennngan diriku
Tuhan
Untuk apa aku bertahan sejauh ini
Apakah aku layak bahagia?
Tampilkan postingan dengan label FIKSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FIKSI. Tampilkan semua postingan
Selasa, 11 Juni 2024
Jumat, 07 Februari 2020
Kisah si 16 Part 1
"Ada berhamburan rumbai-rumbai lusuh disana, menamparku pada realita. Aku tau, dalam ruang sempit itu ada tanah luas nan lapang diluarnya. Aku terdiam. Menatap. Menahan diri untuk terjun melangkah lebih dalam dan lebih jauh lagi. Tapi... aku terkagum, hanya dengan menatap sekumpulan domba-domba di angkasa senja itu. Aku mencoba meraihnya, namun tanganku tak sampai kesana. Perlahan kupejamkan mata. Aku berkata, pada diriku sendiri bahwa "Aku harus meraihnya. Apapun yang terjadi aku harus pergi dan mendapatkannya". Untuk sesaat aku lupa pada apa yang menjeratku dalam ruang sempit itu. Sehingga aku tidak bisa keluar dari sana. Sesaat kemudian aku sadar. Lalu aku perlahan melepaskan jeratan yang menahanku dengan sepuluh tangan lainnya. Akhirnya aku bisa melangkah, dan terjun lebih dalam. Namun sayang, hal yang kutemui ketika aku berdiri adalah duri yang menancap tajam pada kaki ringkih nan lemah ini. Aku semakin sadar bahwa domba-domba senja itu hampir pudar. Dan aku makin jauh darinya. Aku salah. Atau, apakah ini adalah jawaban? Apakah ini adalah ilusi? Bukan, ini adalah kenyataan. Lantas, bagaimana aku meraih domba senja nan indah itu? Seakan-akan mereka memanggilku. Seakan-akan aku bisa bahagia bersama mereka. Namun, apakah benar bahagia itu? Apakah bahagia harus menyakiti diri sendiri? Atau.. apakah bahagia didapat setelah merasakan sakit? Atau bahagia kita yang menentukan. Rumit.... " -aLvaizah-
Langganan:
Postingan (Atom)