Kamis, 29 Juni 2023
Selasa, 19 Oktober 2021
Inklusi dan Komunikasi Perubahan Sosial
Sejalan dengan Visi Pembangunan Kota Yogyakarta terkait Meneguhkan Kota Yogyakarta sebagai Kota Nyaman Huni dan Pusat Pelayanan Jasa yang berdaya saing kuat untuk pemberdayaan masyarakat dengan berpijak pada nilai keistimewaan, Pemerintah Kota Yogyakarta berkomitmen untuk terus mendorong kota Yogyakarta sebagai Kota Inklusi. Keseriusan tersebut telah di apresiasi oleh Staf Khusus Presiden RI Angkie Yudistia pada tahun 2020 karena telah berhasil membuat 10 kecamatan di Yogyakarta sebagai daerah Inklusi. Dan ditargetkan pada 2022 mendatang akan ada sekitar 85 sekolah Inklusi. Hal tersebut tentunya membawa dampak positif sekali terutama bagi kaum penyandang disabilitas (kaum rentan) dan mengurangi tindakan buruk akibat adanya diskriminasi bagi kaum rentan.
Tidak hanya dari segi fasilitas dan
pembangunan yang terus diperbaharui, pemerintah Kota Yogyakarta juga gencar
melakukan aksi workshop terkait persiapan Kota Yogyakarta menuju Kota Inlkusi
kepada masyarakat sekitar untuk ikut berpartisipasi aktif dalam program pemerintah
tersebut. Diantaranya adalah Dinas Sosial Kota Yogyakarta yang menggelar Workshop
“Menuju Kota Inklusi Melalui FKI” dan Pemerintah Daerah (PEMDA)
yang menggelar Workshop Temu Inklusi #3 dengan Tema “Menuju Indonesia
Inklusif 2030 melalui Inovasi Kolaboratif “. Workshop tersebut diadakan
dengan menghadirkan stakeholder utama yaitu pemerintah, organisasi
kemasyarakatan, organisasi difabel, dan masyarakat setempat. Diharapkan
kedepannya dengan adanya workshop tersebut mampu memunculkan aspirasi, inovasi,
dan praktik nyata dalam mewujudkan wilayah inklusi.
Meninjau dari segi Komunikasi
Perubahan Sosial melalui target yang ada jelas bahwa Yogyakarta yang bergerak
menuju wilayah Inklusi yang telah diakui bahkan terus berinovasi telah mencapai
bahkan melebihi target yang ada. Mengacu pada tokoh Burhan Bungin
yang melihat perubahan social dari segi pluralitas dan heterogenitas, secara system
social, agama dan budaya program pemerintah Yogyakarta Menuju Wilayah Inklusi telah
mencapai kata perubahan social dimana disetiap programnya telah melibatkan
masyarakat secara luas bahkan memberikan kesadaran baru bahwa masyarakat normal
dan kelompok disabilitas (kelompok rentan) mampu dan sanggup untuk hidup
berdampingan. Tentunya demi menjadikan Kota Yogyakarta sebagai Kota yang Nyaman
Huni Pemerintah telah mengupayakan banyak hal tidak hanya dari apa yang saya
sebutkan diatas.
Selasa, 23 Maret 2021
OpInI
OpIni
Oleh : Viky Alvin Azizah
|
T |
idak terasa kita telah berhasil merayakan tepatnya
satu tahun kasus yang mengguncang dunia yang tidak lain adalah kasus virus
Sars-Cov 19 atau yang akrab disebut dengan Covid 19. Jika kita melihat dan
mengingat-ingat kembali sejarah perkembangan dari waktu pertama kali virus
covid 19 muncul di Wuhan, China banyak sekali kebijakan-kebijakan yang diambil
pemerintah Indonesia demi bisa menghentikan lajur penyebaran persebaran virus
covid 19. Meskipun, pada awalnya pemerintah Indonesia bisa dikatakan lalai
karena terlambat selama kurang lebih dua bulan dari sejak kasus pertama muncul
dan diketahui publik. Namun, ketika melihat kebijakan-kebijakan yang ada, bisa
kita lihat seberapa serius pemerintah dalam menangani kasus tersebut, meskipun
secara keseluruhan tidak bisa dikatakan bahwa kebijakan dari pemerintah yang
dilaksanakan sepenuhnya berhasil dan diterima masyarakat.
Banyak
hal yang berubah tentunya setelah kebijakan pemerintah ditetapkan. Mulai dari
isu bahwa wabah covid 19 ini disengaja dan dibuat oleh adikuasa dunia demi
mengontrol Negara-negara berkembang, maraknya teori konspirasi, hingga serbuan
media yang begitu deras sehingga menimbulkan sentiment public yang berlebihan
mengenai keberadaan dan perkembangan virus covid 19. Tentu, banyak oknum yang
megambil keuntungan dari apa yang sudah dipaparkan diatas.
Menurut saya pribadi, pemerintah tidak lambat dalam menetapkan kebijakan. Seperti yang sudah kita ketahui sejak awal bahwa wabah ini merupakan hal baru bagi masyarakat diseluruh dunia. Kebijakan yang akan dibuat pun menyangkut keberlangsungan kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Menurut saya perlu untuk mengumpulkan data dan mempelajari lebih lanjut terkait virus covid 19 terlebih dahulu sebelum membuat kebijakan yang akan ditetapkan kepada masyarakat. Selain itu, pemerintah juga sudah mengupayakan pengadaan vaksinasi covid 19 kepada masyarakat walaupun secara bertahap dalam waktu satu tahun perang terhadap covid 19. Dapat kita lihat bahwa pemerintah cukup tanggap dalam menangani kasus covid 19 ini ditengah porak porandanya segala sektor negara khususnya dibidang ekonomi yang mengakibatkan pemerintah mengubah anggaran secara besar-besaran.
Minggu, 11 Oktober 2020
Sisi Negatif Terlaksananya Pemilu Ditengah Pandemi
"Sisi Negatif Terlaksananya Pemilu Ditengah Pandemi"
|
S |
ecara
garis besar menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia, tidak
diragukan lagi bahwa negara indonesia adalah sebuah negara kesatuan yang
menganut sistem demokrasi dengan berpegang pada “kekuasaan dari rakyat, oleh
rakyat, dan untuk rakyat”. Oleh karena itu segala keputusan dan kebijakan
yang berlaku menggunakan sistem pengambilan suara terbanyak, termasuk juga keputusan
dalam memilih seorang kepala desa, kepala camat, gubernur hingga kepala negara.
Seluruh rakyat diminta untuk terlibat aktif dalam setiap pengambilan suara yang
sebentar lagi akan dilaksanakan pada bulan Desember mendatang.
Meskipun
kini masyarakat berada ditengah pandemi yang semakin naik, Presiden Jokowi dengan
ultimatumnya menegaskan bahwa pemilu tetap harus dilaksanakan. Ada beberapa
kekhawatiran terhadap pemilu yang tetap dilaksanakan ini. Banyak juga rasa heran
hadir ditengah masyarakat dimana keadaan memaksa untuk sekolah diliburkan,
kerja dirumahkan, namun pemilu tetap dilaksankan disaat 70 negara teritoi di
dunia memutuskan untuk menunda pemilu nasional dan subnasional akibat pandemi
covid-19 (sumber: https://www.idea.int/news-media/multimedia-reports/ikhtisar-global-covid-19-dampak-terhadap-pemilu-bahasa-indonesia).
Ada
beberapa kekhawatiran terkait pemilu yang setidaknya melibatkan pemilihan 224 bupati,
pemilihan 37 wali kota, serta pemilihan gubernur yang berjumlah 9. Diantaranyayang
pertama adalah adanya kekhawatiran terhadap penularan virus yang semakin cepat dengan
diadakannya pemilu. Meski sudah ditetapkan protokol kesehatan oleh pemerintah, namun
hal tersbut tidak bisa menjamin terhambatnya penularan virus apabila pemilu
dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang biasa-biasa saja. Yang kedua adalah
adanya kekhawatiran terhadap permainan politik uang (money politic) yang
semakin tinggi ditengah masyarakat yang sudah kita saksikan bersama bahwa
banyak sekali masyarakat yang terkena pemutusan kerja (PHK) selama
pandemi berlangsung. Dan yang terakhir, dikhawatirkan pula adanya pemanfaatan
bantuan sosial yang didapatkan masyarakat setempat dibawah naungan nama partai
demi menaikkan pihak suara lebih banyak. Bantuan yang pada awalnya diniatkan
untuk membantu meringankan beban masyarakat menengah kebawah demi bertahan
hidup selama pandemi kini berubah menjadi asupan demi memperoleh hak suara.
Apalagi, data masyarakat menengah kebawah memiliki presentase sebanyak 99,5%
dari 100% keseluruhan penduduk Indonesia (sumber: https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/02/04/masyarakat-menuju-kelas-menengah-kelompok-terbesar-penduduk-indonesia).
Kamis, 25 Juni 2020
Virtual Tourism Indonesia
“Virtual Tourism Indonesia????”
Oleh : Viky Alvin Azizah
J |
auh sebelum konsep revolusi 4.0 lahir yang dikumandangkan pertama kali oleh Klaus Schwab, telah menempatkan banyak kesadaran bersama dalam lingkungan masyarakat Indonesia dimana segala aspek kehidupan telah dijamah oleh hadirnya digitalisasi dalam teknologi. Hal inilah yang mendasari hadirnya Virtual Tourism di Indonesia atau lebih dikenal sebagai Pariwisata Virtual. Virtual Tourism merupakan sebuah inovasi dari teknologi yang mana memungkinkan para pengguna agar bisa bernteraksi secara virtual (melalui dunia maya) dengan suatu daerah atau lingkungan tertentu yang disimulasikan oleh perangkat komputer. Virtual Tourism ini hadir dan digagas oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) juga sebagai solusi unik dimana hal ini merupakan kolaborasi antara teknologi dan media digital yang mampu untuk membentuk gaya hidup baru khususnya dalam sektor pariwisata. Hal tersebut juga menjadi obat bagi para masyarakat akibat pandemi covid-19 yang melakukan pembatasan sosial berskala besar yang merindukan nikmatnya berwisata dan juga merupakan bukti kemajuan daripada sektor pariwisata. Virtual Tourism kini dapat dikunjungi melalui website secara gratis, dan juga bisa di unduh melalui aplikasi. Pada Jumat, 8 Mei 2020 lalu Kemenparekraf mengadakan demo pertamanya dengan menyelenggarakan acara bertajuk “Ngabuburit Wisata Kopi”. Dalam acara tersebut secara singkat menjelaskan tentang pengalaman serta wawasan baru mengenai keda-kedai kopi legendaris yang ada di Jakarta. Selain sebagai demo kepada masyarakat secara luas, virtual tourism juga dijadikan sebagai langkah marketing gaya baru dimana promosi dilakukan oleh obyek wisata yang ada di tiap-tiap daerah untuk bisa menarik wisatawan. Sebagai destinasi digital, virtual tourism terbukti mampu menjadi solusi terbaik selama masa pandemi covid-19 ini.
Jumat, 05 Juni 2020
Adaptasi Pariwisata Indonesia Menjemput “New Normal”
Adaptasi Pariwisata Indonesia Menjemput “New Normal”
Oleh Viky Alvin Azizah
Seperti yang sudah dilansir oleh katadata.co.id bahwa Presiden Jokowi akan menerapkan tatanan normal kembali atau yang biasa disebut dengan "new normal" pada prvinsi daerah yang memiliki tingkat penyebaran covid-19 yang paling rendah (reproduction rate/RO) yaitu dibawah angka 1. Mendengar hal ini tentu saja seluruh pelaku sektor pariwisata akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyambut keadaan baru walaupun bertaruh pada kehadiran wisatawan yang masih sedikit. Selain itu, dari pihak wisatawan sendiripun sebenarnya memiliki kekhawatiran tersendiri dimana mereka mempertanyakan rasa aman yang menjadi kegelisahan mereka ketika akan memulai suatu perjalanan.
Melihat beberapa faktor yang ada, menurut saya sendiri seharusnya ada kerjasama yang kuat anatara pelaku usaha sektor pariwisata, wisatawan, dan juga pemerintah. Sejauh ini, melihat pelaku usaha setelah mendengar akan diberlakukan new normal, banyak yang sudah mempersiapkan dengan matang terkait mitigasi resiko yang dimaksimalkan dalam pelayanan yang ada. Misalnya seperti maskapai penerbangan Emirates yang sudah menerapkan rapid test bagi penumpang sebelum melakukan perjalanan, seperti yang dilansir oleh kompas.com pada awal Juni lalu. Tentu saja itu untuk perusaahan yang besar yang berani mengambil resiko sebelum adanya kerugian besar. Selain itu juga para pelaku usaha bisa mulai menerapkan "healthy travelling" sebagai solusi bagi para wisatawan. Diantaranya seperti:
1. Pembatasan Kuota Open Trip atau gabungan berkendara
2. Penataan ulang kembali obyek wisata menjadi ekowisata
3. Penyediaan alat cek suhu tubuh, masker gratis setiap hari dan juga sanitizer
4. Memanfaatkan aplikasi dengan vitur booking secara digital
5. Menyiapkan asuransi kesehatan pada setiap produk pariwisata yang dipasarkan
(sunrise-indonesia.com)
Beberapa hal diatas adalah sebagai contoh bagi para pelaku usaha pariwisata mengenai beberapa kesiapan menyambut new normal di beberapa daerah. Selain itu, bagi para wisatawan harus mempersiapkan dengan matang sebelum melakukan perjalanan, ketika ada kekhawatiran sejak awal, ada baiknya menggunakan jasa asuransi perjalanan yang sudah disediakan. Menyiapkan diri secara sehat sebelum melakukan perjalanan adalah hal yang paling penting. Juga bagi para wisatan ada baiknya mematuhi protokol-protokol kesehatan yang sudah dijalankan atau dianjurkan oleh pihak agen atau obyek wisata itu sendiri.
Bagi pemerintah, haruslah mensosialisasikan protokol kesehatan yang ada pada sejumlah warga sekitar yang juga berperan sebagai pelaku usaha tidak hanya pada pegawai obyek wisatanya atau instansi wisata tertentu saja. Tetapi secara menyeluruh pada aspek yang ada. Bagaiamana mengenai persiapan yang benar menyambut wisatawan yang ada dan protokol kesehatannya yang menjadi poin utama. Pemerintah juga bisa menghadirkan setiap posko pada setiap obyek wisata dengan bekerjasama pada tenaga kesehatan serta warga sekitar yang ada, untuk meminimalisir penyebaran virus. Ketika beberapa pihak berusaha melakukan yang terbaik dibidangnya masing-masing maka akan timbul keselarasan. Maka kata new normal tidak lagi menjadi kekhawatiran publik akan tetapi akan menjadi sebuah perjuangan di berbagai pihak bersama-sama.
_page-0001.jpg)
_page-0002.jpg)
_page-0003.jpg)
_page-0004.jpg)
_page-0005.jpg)
_page-0006.jpg)
_page-0007.jpg)
_page-0008.jpg)
_page-0009.jpg)
_page-0010.jpg)
_page-0011.jpg)
_page-0012.jpg)
_page-0013.jpg)







